Dalam suatu kuliah dengan mata ajar Komunikasi Dijital, dosen kami menerangkan tentang tanaman. Saat itu saya berpikir, apa hubungannya antara tanaman dengan Komunikasi Dijital?
Beliau memberikan contoh, tanaman yang ada disekitar landasan pesawat di bandara dapat tumbuh dengan subur. Begitu pula tanaman yang tumbuh di pinggiran jalan raya, juga tumbuh dengan subur. Ketika itu saya menganggap memang jenis tanamannya saja yang berbeda. Di pinggir jalan raya memang ditanam pohon yang tahan menghadapi angin dan cuaca ataupun panas mesin kendaraan yang lewat. Jadi tidak ada hubungannya dengan Komunikasi Dijital.
Sang dosenpun kemudian bertanya, apakah mungkin hal itu berubungan dengan kondisi tanah? Namun kemudian sang dosen menggambarkan bahwa ada tanaman yang sama di pekarangan rumahnya yang tidak dihuni, ternyata tidak sesubur tanaman di bandara atau di pinggir jalan. Padahal lokasinya di daerah Bogor yang lokasinya terkenal subur. Tapi ada tetangganya yang juga menanam tanaman yang sama dan tumbuh dengan subur. Kenapa bisa begitu? Suatu ketika sang dosen menempati rumah kosong tersebut dalam beberapa waktu yang cukup lama. Dan sejak saat itu secara signifikan tanaman di halaman rumahnya itu menjadi subur dan berbuah. Suatu cerita yang aneh memang kalo mau dilihat secara logis. Seperti ada ikatan batin yang kuat antara tanaman dengan penghuni rumah. Pertanyaan itu kemudian dijawab sendiri oleh sang dosen tersebut. Tanaman dapat tumbuh subur dan berbuah karena getaran.
Ada hubungan yang kuat antara getaran dengan kesuburan. Tapi kemudian saya bertanya pada diri sendiri, apa hubungannya tanaman, komunikasi dijital, getaran dan kesuburan? Kuliah yang aneh…
Tidak berapa lama saya temukan potongan artikel menarik dari newscientist.com yang menyatakan bahwa tanaman bereaksi terhadap getaran audio dan memacu produksi asam amino dalam protein, bahkan menstimulasi proses sintesa. Menurut penelitian, memang ada hubungan antara getaran dengan kesuburan. Tapi apa hubungannya dengan Komunikasi Digital ya? Belum nyambung saya…